Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
#SASTRA| Jamet & Stigma Orang Madura Lainnya
*Belajar dari Buku Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak
Siapa yang tidak tahu gaya “jamet”? Atau bahkan ada di antara Anda yang mencibir tapi diam-diam memperhatikan konten-konten “jamet”. Bisa karena penasaran, bisa juga karena Anda terhibur. Namun, fenomena jamet keburu dilebeli negatif.

ISTILAH ini populer di kalangan anak muda. “Jamet” biasa diasosiasikan dengan gaya hidup anak muda yang berpakaian gombrong, celana ngetat, rambut jabrik, musik jedag-jedug, hingga perilaku joged yang dianggap “kampungan” bagi sebagian orang.

Dalam sehari-hari istilah “jamet” berpretensi ejekan atau negatif. Lalu mengapa “jamet” identik dengan Orang Madura? Nah, Royyan Julian mengulasnya dalam buku kumpulan esainya Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak, terbitan baNANA, 2025.

“Jamet” menjadi salah satu yang dibahas Royyan. Dalam bukunya, Royyan mengajak kita untuk memahami bagaimana stigma itu melekat pada Orang Madura. Apa-apa yang negatif, selalu Orang Madura. Ya begitulah adanya. “Jamet” hanyalah satu di antara banyak cap negatif itu.

Di Surabaya, muncul istilah baru yang disematkan kepada Orang Madura, yaitu Meksiko. Sepintas tidak ada yang salah dengan kata ini karena memang merujuk pada sebuah negara di benua Amerika. Namun ketika kata ini dimaknai lain sebagai sebutan Orang Madura, artinya menjadi negatif.

Orang Madura Ada di Mana-mana

Orang-orang Madura nyaris ada dalam tiap sendi kehidupan kita. Mereka terus bermigrasi hingga ke pelosok negeri dan desa-desa. Di kota Blitar, Jawa Timur hingga ke kota Palu, Sulawesi Tenggara, bahkan Papua akan kita temukan orang Madura yang merantau.

Pekerjaan mereka di tanah perantauan sangat beragam. Mulai dari penjual sate, ini yang paling sering dijumpai, sampai pengepul rosok. Perdagangan tampaknya memang menjadi pilihan pertama untuk mereka bertahan hidup. Tak ada yang meragukan mental orang-orang Madura dalam urusan mengais rezeki.

Royyan Julian (kanan) ingin masyarakat melihat Orang Madura sebagai entitas yang beragam, tidak tunggal. Pandangan tunggal terhadap Orang Madura, menjadikan setiap perbuatan buruk yang dilakukan, selalu dilihat dari suku pelakunya. (Robertus Risky/Project Arek)

Apa saja akan mereka lakukan demi sesuap nasi. Kita tahu kini mereka sudah merambah bisnis toserba atau toko serba ada di beberapa kota. Masyarakat menyebutnya Toko Madura. Toko yang buka 24 jam ini mampu bersaing dengan toko-toko modern yang sudah ada.

Toko ini buka setiap hari, bahkan buka setengah hari ketika kiamat terjadi, begitu guyon mereka. Tak sedikit juga orang-orang Madura yang memilih bekerja di dalam sektor informal seperti menjadi tukang parkir, penyedia jasa keamanan, atau kernet di terminal-terminal bus kota.

Namun, pada aspek tertentu, tak jarang orang-orang Madura yang terjerembah dalam dunia kriminal. Ini berakibat pada stereotip negatif yang masih melekat pada mereka sampai sekarang. Di Surabaya sendiri, setiap kriminalitas yang terjadi selalu dikaitkan dengan orang Madura.

Sebut saja saat terjadi pencurian motor atau pencurian besi yang kebetulan pelakunya orang Madura. Dampaknya, masyarakat menggenaralisasi semua orang Madura sama saja, suka maling.

Stigma negatif terhadap orang-orang Madura ini yang juga sedang dilawan oleh Royyan Julian dalam buku kumpulan esainya Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak (baNANA, 2025). Ia memberi sudut pandang lain bagi masyarakat terhadap orang-orang Madura.

Diskusi yang digelar di Daskopital x Sawijibook, Surabaya, pada 4 April 2026, berlangsung dalam suasana santai. Obrolan mengalir seperti percakapan biasa, tetapi pelan-pelan mengarahkan pada permasalahan yang terus mencuat dalam ruang publik kita, yakni tentang bagaimana patutnya orang Madura dipandang.

Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, suara-suara yang berbeda saling bertemu. Ada yang berbicara dari pengalaman pribadi, ada yang dari pembacaan atas buku langsung, ada pula yang murni dari kegelisahan. Semua berkelindan, membentuk sebuah percakapan yang dapat menambah wawasan.

Buku Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya tentang Madura, termasuk buku Madura Niskala. Namun jika buku terdahulu menggunakan pendekatan dan bahasa yang lebih berat, bukunya yang terbaru ini hadir dengan bahasa yang lebih sederhana, bahasa sehari-hari.

“Saya mengemasnya dengan bahasa yang lebih santai dan ringan, serta menambahkan lebih banyak humor agar dapat menjangkau semua kalangan. Jika dalam Madura Niskala terdapat banyak istilah yang serius, maka di buku ini lebih sederhana. Istilah “Niskala” sendiri berarti “tidak terlihat,” jelas Royyan.

Dalam isu yang sensitif seperti identitas etnis dan stigma sosial, pendekatan yang terlalu akademis kadang justru dapat menciptakan jarak dengan pembaca. Bahasa ringan dan humor sengaja digunakan oleh Royyan sebagai jembatan agar maksdunya mudah dipahami.

Jamet Bukan Monopoli Orang Madura

Kembali ke “jamet”, Royyan mengajak peserta diskusi untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak memaknai “jamet” sebagai sekadar gaya saja, tetapi sebagai gejala yang berkaitan dengan konsumerisme. Dalam rangka ini, “jamet” bukan lagi perihal cara berpakaian, melainkan tentang bagaimana individu merespon arus budaya populer dari luar.

Menurutnya, masyarakat Madura memiliki sifat yang kosmopolit—yang terbuka terhadap pengaruh eksternal. Tetapi, sifat keterbukaan ini tidak diikuti dengan kemampuan menyaring budaya yang masuk. Akibatnya budaya komsumtif berkembang tanpa kontrol di anak muda Madura.

Kalau dimaknai sebagai gaya, mungkin ini hanya tren. Tapi kalau kita lihat sebagai bentuk konsumerisme, ini sesuatu yang lebih panjang umurnya. Jika budaya ini berkembang di Madura—yang secara alam memiliki sumber daya terbatas—maka hal tersebut dapat berdampak buruk,” ujarnya.

Fenomena “jamet” tidak eksklusif milik orang Madura. Nyatanya mereka juga terdapat di Surabaya, Bandung, bahkan Jakarta. Royyan menyinggung fenomena seperti Citayam Fashion Week sebagai contoh bagaimana ekspresi serupa muncul di ruang yang berbeda, dengan latar sosial yang berbeda pula.

“Menurut saya “jamet” memang memiliki sisi negatif. Namun, masyarakat di luar Madura perlu memahami bahwa Madura bukanlah entitas yang tunggal. Orang Madura memiliki beragam profesi dan latar belakang—ada yang menjadi tukang cukur, pedagang sate, membuka warung 24 jam, bahkan ada yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden,” tambah Royyan.

Melalui bukunya, Royyan Julian mengajak pembaca untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. Stikma kriminal, norak, atau hal negatif lainnya, bukanlah monopoli Orang Madura. Royyan hendak mengingatkan, prilaku-prilaku itu tidak berkaitan dengan etnis atau suku karena siapa saja bisa melakukannya. (Robertus Risky/Project Arek)

Diskusi tak berhenti pada level konseptual. Beberapa peserta diskusi banyak menyinggung sisi lain dari budaya orang Madura yang jarang diketahui masyarakat luas, salah satunya kecendrungan budaya yang matriaki dalam keluarga di Madura, di mana seorang ibu menjadi pusat dari kehidupan berumah tangga.

Pengalaman personal para peserta menghadirkan sudut pandang lain yang beragam. Ferry, mahasiswa sosiologi asal Bangkalan, misalnya, melihat stereotip negatif terhadap orang Madura harus dikritisi alih-alih sekadar menjadi lelucon belaka.

Menurutnya, setiap rumor atau stereotip berangkat dari pengalaman tertentu. Namun, masalah itu muncul ketika pengalaman tersebut dilepaskan dari konteksnya, yang berakibat pada penilaian ganjil pada satu kelompok.

“Ketika ada rumor yang beredar, pasti ada pihak yang memelopori, dan biasanya hal itu didasarkan pada pengalaman tertentu. Pengalaman dari satu orang kemudian menyebar ke orang lain. Menurut saya, hal tersebut perlu dikritisi agar tidak terjadi penyamarataan atau pelabelan tertentu terhadap orang Madura,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan juga oleh Fisya, seorang perempuan muda yang juga berasal dari Bangkalan. Dengan mengikuti diskusi, ia sekarang merefleksikan bahwa stereotip terhadap orang Madura bisa berdampak lebih jauh. Misalkan prasangka negatif terhadap dirinya yang muncul saat pertama kali merantau.

Saya sendiri sudah merasakan merantau di beberapa tempat, tetapi citra negatif tersebut terasa paling kuat di Surabaya, baik dari pandangan orang luar maupun dari orang Madura sendiri. Hal ini menjadi keresahan bagi saya,” ungkapnya.

Fisya juga mengakui, hal itu juga berdampak pada penyangkalan identitas bagi beberapa orang Madura. Mereka malu mengakui identitas asalnya karena framing buruk yang begitu kuat di media sosial. Orang Madura yang lebih muda cenderung membantah jika dirinya dipersonifikasikan dengan akar budaya Madura. Maka dari itu mereka akan mencari identitas lain sebagai alternatif yang bisa diterima di masyarakat.

Premanisme, pencurian sepeda motor, pencurian besi, dan sebagainya yang terjadi di Surabaya selalu akan dikaitkan dengan etnis Madura. Misalkan, pertama ramainya kasus Madas (Madura Asli) tempo hari yang mengusir wanita tua dari rumahnya dengan kekerasan. Lalu, fakta bahwa di tahun lalu ditemukan data bahwa  sekitar 80% motor curian di Surabaya dilarikan ke Madura.

Peserta diskusi bedah buku Cinta Ditolak, Gaspol Bertindak diajak terbuka menyampaikan pendapat dan pengalamannya. Royyan Julian menggunakan gaya penulisan sederhana sehingga dengan mudah dipahami dan lebih dekat dengan pembacanya. (Robertus Risky/Project Arek)

Dengan dua fakta tersebut saja masyarakat sudah cukup mendapat bahan bakar untuk menghujat etnis Madura. Media sosial ramai dengan ujaran kebencian bagi mereka: misalkan, “susah diatur”, “usir saja dari Surabaya”, “harap maklum”, “memang susah musuh (bermasyarakat) dengan orang Madura.

Royyan menyoroti bagaimana pemberitaan sering kali tidak seimbang dalam menampilkan identitas etnis, khususnya Madura. Penyebutan identitas hanya muncul dalam konteks yang negatif. Ini menunjukkan adanya bias yang tidak selalu disadari.

Bagi Royyan, Madura bukanlah entitas tunggal, tetapi majemuk. Media juga seharusnya bersikap lebih seimbang dan tidak selalu membawa-bawa identitas etnis dalam pemberitaan, terutama dalam kasus konflik atau kriminalitas.

Mengapa ketika pelakunya orang Madura, identitas etnis selalu disebutkan, sementara pada kasus lain tidak? Karena itu, pemberitaan harus lebih adil. Hal inilah yang juga saya angkat dalam buku-buku saya, baik Madura Niskala maupun buku yang terbaru, agar masyarakat dapat melihat secara lebih objektif dan adil,” ujar Royyan.

Fisya mengajak masyarakat untuk lebih humanis dalam melihat etnis Madura. Ia menganggap bahwa etnisnya, Madura, itu sangat beragam karena mempunyai banyak suku, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda.

“Kita tidak bisa hanya berdasarkan satu pengalaman buruk lalu menyamaratakan semuanya. Oleh karena itu, penting untuk mengenal setiap individu secara langsung, termasuk memahami latar belakangnya, seperti pendidikan dan lingkungan. Dengan begitu, kita bisa melihat bahwa setiap orang Madura memiliki karakter yang berbeda-beda.”

Tentunya banyak dari kita yang mengenal tetangga, kawan atau langganan penjual makanan yang beretnis Madura. Dan pastinya kita bisa melihat sisi yang positif dari kehadiran mereka, khususnya di Surabaya. Mereka pekerja keras yang ulet dan cukup setia jika dijadikan kawan.

Makanan khas Madura juga sangat menyatu di lidah para pecinta kuliner. Terlebih sate ayam dan bebek gorengya. Lalu, apa hal ini tidak bisa dijadikan tolok ukur lain untuk membangun sudut pandang yang positif tentang etnis Madura?